18 Maret 2026 – Konflik bersenjata antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat terus memanas dan kini telah memasuki pekan ketiga sejak perang tersebut pecah pada akhir Februari 2026. Serangan balasan dari Iran terhadap Israel semakin intensif dan menyebabkan kepanikan di berbagai wilayah, khususnya di kota Tel Aviv yang menjadi salah satu target utama serangan rudal.
Pada Rabu, 18 Maret 2026, sirene peringatan bahaya kembali meraung di seluruh penjuru kota Tel Aviv setelah Iran meluncurkan gelombang serangan rudal balistik ke wilayah Israel. Sistem pertahanan udara Israel segera diaktifkan untuk mencegat rudal-rudal yang datang. Namun, beberapa rudal dilaporkan berhasil menembus sistem pertahanan tersebut dan menghantam sejumlah titik di kota.
Ledakan besar terdengar di beberapa lokasi di Tel Aviv. Kobaran api terlihat membakar bangunan dan kendaraan di pusat kota. Situasi tersebut memicu kepanikan warga yang segera berlari menuju tempat perlindungan bom yang tersebar di berbagai gedung dan fasilitas umum.
Banyak warga Israel yang terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman. Bahkan dalam beberapa laporan, terlihat warga membawa hewan peliharaan mereka ke dalam bunker untuk melindungi diri dari ancaman serangan rudal yang terus berlangsung.
Media lokal Israel melaporkan bahwa kebakaran sempat terjadi di beberapa titik di pusat kota Tel Aviv akibat serangan rudal Iran. Api membakar sejumlah bangunan serta kendaraan yang berada di sekitar lokasi ledakan. Petugas pemadam kebakaran dan tim penyelamat segera dikerahkan untuk memadamkan api serta mengevakuasi warga yang berada di area terdampak.
Konflik ini merupakan bagian dari eskalasi perang yang semakin meluas antara Iran dan Israel setelah terjadinya serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat. Iran menyatakan bahwa serangan rudal yang mereka lakukan merupakan aksi balasan atas serangan udara yang sebelumnya dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap wilayah Iran.
Serangan yang terjadi pada 28 Februari 2026 disebut-sebut sebagai pemicu utama eskalasi konflik. Dalam serangan tersebut, sejumlah tokoh penting Iran dilaporkan tewas, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut. Kejadian tersebut memicu kemarahan besar dari pihak Iran dan memicu serangkaian serangan balasan terhadap Israel serta aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Sejak saat itu, kedua pihak terus saling melancarkan serangan. Iran berulang kali menembakkan rudal ke wilayah Israel, sementara Israel bersama Amerika Serikat melakukan serangan udara terhadap berbagai target militer di Iran.
Memasuki pekan ketiga konflik, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah semakin tidak menentu. Selain Iran dan Israel, kelompok Hizbullah yang berbasis di Lebanon juga ikut terlibat dalam konflik tersebut.
Pada Selasa, 17 Maret 2026, kelompok Hizbullah meluncurkan sejumlah roket ke wilayah Israel utara, terutama ke kota Nahariya yang berada dekat dengan perbatasan Lebanon. Rekaman video yang beredar menunjukkan roket-roket tersebut meluncur di langit sebelum akhirnya dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel.
Dalam rekaman tersebut terlihat dua garis putih melintas di udara sebelum rudal pencegat Israel menghantam roket yang datang. Ledakan kecil dan kepulan asap kemudian terlihat di langit sebagai tanda keberhasilan sistem pertahanan udara Israel dalam mencegat sebagian serangan tersebut.
Meski demikian, beberapa serangan tetap menyebabkan kerusakan di wilayah permukiman. Sebuah serangan udara yang terjadi di dekat perbatasan Lebanon pada Senin malam, 16 Maret 2026, dilaporkan menghantam kawasan permukiman dan menyebabkan beberapa rumah terbakar. Setidaknya tujuh warga sipil dilaporkan mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.
Kelompok Hizbullah menyatakan bahwa serangan yang mereka lakukan merupakan bentuk balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran yang sebelumnya tewas dalam serangan militer. Pernyataan tersebut menandakan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah semakin meluas dan berpotensi melibatkan lebih banyak pihak.
Di sisi lain, Amerika Serikat terus melakukan operasi militer bersama Israel untuk menargetkan berbagai fasilitas militer milik Iran. Komando Pusat Amerika Serikat merilis rekaman video yang menunjukkan serangan udara terhadap kendaraan lapis baja serta infrastruktur militer Iran.
Dalam rekaman tersebut terlihat beberapa kendaraan militer Iran dihancurkan oleh serangan udara presisi. Selain itu, sejumlah fasilitas militer yang diduga digunakan untuk mendukung operasi tempur juga menjadi sasaran serangan.
Amerika Serikat menyatakan bahwa operasi militer tersebut bertujuan untuk menghancurkan ancaman yang dapat membahayakan pasukan Amerika serta sekutu mereka di kawasan Timur Tengah.
Serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel juga berdampak besar terhadap wilayah Iran sendiri, khususnya di ibu kota Teheran. Beberapa kawasan dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat serangan tersebut.
Banyak bangunan runtuh akibat ledakan, terutama kompleks perumahan yang berada di sekitar target militer. Tim penyelamat dari organisasi kemanusiaan Bulan Sabit Merah Iran segera dikerahkan untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan terhadap korban yang tertimbun reruntuhan.
Salah satu momen yang paling menyentuh perhatian dunia adalah ditemukannya sebuah boneka anak-anak di antara puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan udara. Relawan yang melakukan pencarian menemukan boneka tersebut di lokasi yang diduga merupakan rumah keluarga yang menjadi korban serangan.
Penemuan boneka tersebut menjadi simbol tragis dari dampak perang terhadap warga sipil, khususnya anak-anak yang menjadi korban konflik bersenjata.
Menurut laporan terbaru pemerintah Iran hingga 18 Maret 2026, jumlah korban tewas akibat serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel telah mencapai sekitar 1.450 orang. Korban tersebut termasuk warga sipil, perempuan, serta anak-anak yang berada di kawasan permukiman.
Tim penyelamat masih terus melakukan pencarian terhadap korban yang mungkin masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Dalam beberapa kasus, mereka berhasil menemukan korban selamat yang masih hidup meski telah tertimbun puing-puing selama berjam-jam.
Di tengah meningkatnya konflik, Iran juga mulai menggunakan persenjataan yang lebih canggih dalam serangannya ke Israel. Untuk pertama kalinya sejak perang berlangsung, Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik strategis Sejjil.
Rudal Sejjil merupakan rudal berbahan bakar padat yang memiliki jangkauan hingga sekitar 2.000 kilometer. Dengan jangkauan tersebut, rudal ini mampu menjangkau hampir seluruh wilayah Israel bahkan hingga beberapa bagian Eropa Tenggara.
Rudal tersebut memiliki panjang sekitar 18 meter dan mampu membawa muatan hingga 700 kilogram. Persenjataan ini dianggap sebagai salah satu senjata strategis milik Iran yang memiliki daya hancur besar jika berhasil mencapai target.
Selain rudal Sejjil, Iran juga dilaporkan meluncurkan beberapa jenis rudal balistik lainnya seperti Khorramshahr, Kheibar, dan Emad. Gelombang serangan rudal ini menjadi salah satu yang terbesar sejak konflik dimulai.
Serangan rudal yang terus berlangsung membuat warga Israel hidup dalam ketakutan. Sirene peringatan sering berbunyi secara tiba-tiba, memaksa warga untuk segera mencari tempat perlindungan.
Banyak sekolah, kantor, dan fasilitas umum di beberapa kota Israel terpaksa ditutup sementara demi alasan keamanan. Aktivitas masyarakat pun menjadi sangat terbatas karena ancaman serangan yang bisa terjadi kapan saja.
Sementara itu, komunitas internasional terus menyerukan agar konflik ini segera dihentikan sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas. Beberapa negara khawatir bahwa perang antara Iran dan Israel dapat memicu konflik regional yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak negara di Timur Tengah.
Hingga 18 Maret 2026, belum ada tanda-tanda bahwa pertempuran akan segera berakhir. Serangan rudal, operasi militer, serta ketegangan politik terus meningkat dari hari ke hari.
Perang yang telah memasuki minggu ketiga ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah. Dengan semakin banyak pihak yang terlibat dan meningkatnya jumlah korban sipil, dunia kini menaruh perhatian besar terhadap perkembangan konflik yang berpotensi menjadi salah satu krisis terbesar di kawasan tersebut.

Social Plugin